First: Become an OFFICER, And Then: Become a MANAGER, But the Last: Become ... an ADMINISTRATOR
No One Live Forever
Tampilkan postingan dengan label Milobs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Milobs. Tampilkan semua postingan

Selasa, Mei 22, 2012

Menyambut UN Peacekeepers Day: "Sekelumit Pengalaman Pribadi di UNMIS"


KEBERSAMAAN DALAM KEBERAGAMAN
DI DILLING TEAM SITE, UNMIS (SUDAN)


Dilling, Sektor IV Kadugli, UNMIS Sudan, November 2009.   Setelah kurang lebih satu bulan di Sudan dan selesai mengikuti induction training di UNMIS HQ Khartoum, maka saya mulai aktif beroperasi di Team Site Dilling di Sektor IV Kadugli, sekitar 900 Km arah selatan Khartoum (Ibu Kota Sudan), dan merupakan salah satu daerah yang bisa dijangkau dari Khartoum dengan kendaraan umum seperti bus-bus besar antar kota karena dilalui oleh satu-satunya jalan utama antar kota yang cukup bagus (untuk ukuran Sudan) yang berakhir di kota Kadugli sebagai ibukota sektor IV UNMIS sedangkan Kota Dilling sendiri sekitar 100 Km sebelum Kadugli.   Situasi keamanan saat itu secara umum kondusif dan terkendali karena yang pertama mengingat kedua faksi militer yang bertikai (SAF - Sudan Arm Forces dan SPLA - Sudan People Liberation Army) sama-sama berupaya menjaga kondisi kemanan stabil dan terkendali menjelang Pemilu 2010 dan terealisasinya jejak pendapat 2011 yang akan menentukan nasib wilayah Sudan Selatan yang dikuasai SPLA, yang kedua karena di kota Dilling ini hanya ada satu faksi yang secara umum memegang kendali yaitu dari SAF, sedangkan SPLA hanya eksis di satuan JIU (Joint Integrated Unit, sebagai cikal bakal tentara nasional Sudan jika hasil referendum memutuskan Utara dan Selatan tetap bersatu) yang berkekuatan setingkat 1 (satu) batalion gabungan antara SAF dan SPLA, sehingga hal ini turut membantu terjaganya situasi dan kondisi keamanan di Dilling dan sekitarnya.   Seperti biasa, untuk personel baru, diberikan waktu dan kesempatan untuk melakukan orientasi dan beradaptasi / menyesuaikan  diri dengan lingkungan dan pekerjaan selama kurang lebih satu minggu dengan dibimbing oleh rekan-rekan sesama Milobs yang sudah terlebih dahulu aktif di Team Site.   Kebersamaan sebagai sesama Military Observer yang bertugas di daerah operasi sangat terasa, walaupun kami datang dari berbagai bangsa dan negara namun rasa persahabatan yang hangat dan erat langsung terasa sejak pertama menginjakkan kaki di Team Site.   Perbedaan budaya dan adat istiadat tidak menjadi penghalang bagi terjalinnya hubungan persahabatan yang baik, bahkan justru bisa menjadi modal untuk lebih mempererat hubungan dengan sharing, saling mempelajari tradisi dan budaya satu sama lain, sehingga pada masa-masa awal kedatangan setiap Milob baru diminta menyampaikan paparan singkat tentang apa dan bagaimana negara asalnya (country presentation).   Jumlah Milobs sendiri saat itu di Team Site ini sebanyak 15 orang yang datang dari Fiji, Indonesia, Kenya, Mesir, Pakistan, Peru, Swedia, Yaman dan Zimbabwe dengan 1 (satu) kompi TCC yang berasal dari Mesir dan 1 (satu) regu prajurit Senkom dari India.
Patroli pertama.    Sebagai Milob baru maka pada tahap awal saya diikutkan dalam patroli reguler sebagai pengamat saja agar dapat mempelajari dan mengikuti apa yang harus dikerjakan selama melaksanakan patroli.   Tujuan patroli saat itu adalah sebuah desa yang terletak sekitar 20 Km Utara Dilling dengan misi VSA (Village Security Assesment) guna memperoleh informasi yang terkait dengan situasi keamanan terkini di sekitar wilayah tersebut.   Pagi itu sekitar pukul 9 waktu setempat, 18 November 2009, dipimpin oleh Team Site Leader saat itu yaitu Kapten Fijian Army, Lepani Damuni, kami berangkat ke desa Shonjokaiya menggunakan dua kendaraan patroli dengan komposisi 4 Milobs, 2 National Monitor (masing-masing dari SAF dan SPLA) serta 1 orang Language Assistan (Penerjemah).   Peran LA disini sangat penting, selain sebagai penghubung komunikasi dengan masyarakat setempat, juga sebagai penunjuk jalan yang handal karena memang mereka direkrut oleh UN dari penduduk lokal yang berpengalaman dan tahu wilayah tersebut, sehingga oleh para Milobs mereka disebut sebagai “living GPS” karena kemampuan mereka tersebut.   Kami tiba di desa tersebut sekitar 15 menit kemudian dan kami menuju ke kediaman kepala desa yang kebetulan saat itu tidak berada di tempat karena sedang ke ladang dan kami diterima oleh anak beliau yang kemudian meminta kami menunggu sementara dia memanggil orang tuanya.   Kami pun menunggu sekitar 10 menit sampai sang Kepala Desa datang dan menyambut kami dengan penuh keramahan di “balai desa” nya yang sangat sederhana dan lebih menyerupai gubuk namun terbukti cukup ampuh menahan panas dan teriknya matahari Sudan.   Sambil berbincang-bincang, kami pun disuguhkan minuman air putih (yang tidak bening) dengan cara unik yaitu dari satu teko air dan satu gelas, sehingga ditawarkan secara bergiliran karena harus bergantian, memang air bersih menjadi masalah yang umum di sana sehingga cukup sulit di peroleh.   Kemudian setelah selesai wawancara dan memperoleh informasi yang dicari, kami pun kembali disuguhkan makanan khas Sudan yang ternyata dipersiapkan selama kegiatan perbincangan kami berlangsung, yaitu bubur kental disebut aseeda yang berbahan dasar sorgum.   Lagi-lagi yang bikin terkejut adalah cara penyajian dan cara memakannya, disajikan dalam satu tempat dan dimakan bersama-sama tanpa sendok ataupun alat bantu lainnya, kebayangkan bagaimana rasanya bagi orang yang pertama kali melihat, merasakan dan melakukannya.   Rekan-rekan Milobs yang lain pun memaklumi nya karena mereka juga waktu pertama kali merasakan hal yang sama, namun kini sudah terbiasa dan bahkan bisa menikmatinya, kata mereka,yang penting adalah kita yakin dan percaya bahwa yang kita makan itu sehat dan aman maka tidak akan terjadi masalah yang berarti, jadi tidak perlu pusing memikirkan hygienis dan kebersihan, karena itu sulit ditemukan di hampir sebagian besar wilayah kota dan pedesaan Sudan, toh selama ini terbukti jarang sekali ada Milobs yang mengalami sakit perut ataupun diare selama bertugas di Sudan.   Bahkan setelah sekian lama tinggal di Dilling, semua rumah makan di sana tidak ada yang menyediakan sendok, garpu ataupun alat bantu makan lainnya, jadi semuanya memakai tangan langsung.   Memang kita disediakan tempat untuk mencuci tangan lengkap dengan sabun nya, namun jangan sekali-kali melihat bagaimana air di dalam wadah tempat cuci tangan tersebut, karena bisa-bisa kita malah tidak jadi mencuci tangan kita.   Menikmati makanan bersama saat melaksanakan patroli sudah menjadi hal yang lumrah dan menjadi kebiasaan yang baik antara sesama Milobs karena terbukti dapat saling mendekatkan diri satu dengan lain dan menumbuhkan kebersamaan, bahkan bila memang harus makan di ‘warung sekalipun kita terbiasa patungan untuk membayar makanan tersebut dan menikmatinya bersama-sama dalam satu wadah dan (lagi-lagi) dengan tangan tentunya.
Patroli berdurasi lama pertama.     AOR (Area Of Responsibility) Dilling Team Site sebenarnya tidak terlalu luas bila dibandinglan dengan Team Site di sektor-sektor lain, dan hampir semua bisa dijangkau dengan perjalanan darat bila di musim kemarau dimana jalan alami yang ada masih bisa dilalui kendaraan roda empat, sehingga untuk tujuan patroli dengan obyek terjauh pun bisa dilaksanakan dalam satu hari saja pulang pergi dengan asumsi tidak ada kendala teknis maupun non-teknis selama perjalanan.   Jadi untuk kegiatan patroli jarak jauh (Long Range Patrol) dilaksanakan satu hari penuh tanpa bermalam, bandingkan dengan Team Site Yambio di Sektor I yang harus bermalam dan melaksanakan patroli jarak jauh selama 3 – 5 hari untuk mencapai sasaran terjauh dalam AOR nya.   Namun pada awal tahun 2010, Sektor IV mengeluarkan kebijakan agar setiap Team Site melakukan Patroli Jarak Jauh selama minimal 3 hari tanpa kembali lebih dulu ke Team Site (dengan kata lain harus bermalam), sehingga Dilling Team Site harus mengkombinasikan beberapa patroli jarak jauh dengan sasaran-sasaran yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat dilaksanakan dalam waktu 3 hari terus-menerus.   Untuk menyesuaikan perubahan kebijakan patroli agar dapat mengakomodir permasalahan seperti yang dialami Dilling Team Site, maka dikemudian hari Sektor HQ menambah klasifikasi patroli dari yang awalnya hanya berdasarkan jarak (Range) menjadi ditambah berdasarkan lamanya (Duration), sehingga Long Range Patrol (LRP) dapat menjadi Long Duration Patrol (LDP) bila dilihat dari hari pelaksanaannya.    Patroli berdurasi 3 hari 2 malam yang pertama yang dilaksanakan oleh Dilling Team Site adalah pada bulan Februari 2010, dengan menggabungkan / mengkombinasikan beberapa patroli menjadi satu dengan beberapa sasaran yang diatur sedemikian rupa sehingga dapat dicapai dalam satu rangkaian perjalanan, yaitu Al Guinai, Umm Barambita, Delami, Kurtala hingga Habila, dengan total jarak yang ditempuh sekitar 252 Km, dan melaksanakan beberapa macam misi mulai Monitoring and Verification (M&V), Military Inspection (MI) ke beberapa unit satuan militer dari SAF dan JIU, VSA ke beberapa desa setempat, hingga Road Recce dan Security Assessment sepanjang rute yang dilalui.   Patroli nya sendiri dimulai pada tanggal 16 Februari 2012 dan berangkat dari Team Site sekitar pukul 09.00, beranggotakan 4 Milobs (termasuk saya), 2 National Monitor dari SAF dan SPLA, seorang LA, serta 7 personel TCC untuk pengawalan, sedangkan susunan kendaraan terdiri dari 2 mobil patroli Milobs, 1 kendaraan kawal serta 1 truk kecil TCC untuk logistik.   Kalau untuk tugas-tugas patroli kita sebelum berangkat sudah membagi tugas secara merata untuk semua Milobs yang ikut dan sudah merupakan tugas rutin yang biasa dilakukan sehingga tidak akan menemui kendala yang berarti di lapangan, namun yang menjadi pengalaman tersendiri yang menarik adalah suasana perjalanan dan kebersamaan antara sesama rekan yang sangat terasa dan hangat karena ini merupakan kegiatan Long Duration yang pertama bagi semua Milobs di Dilling TS.   Rute perjalanan yang cukup jauh dan berat menjadi tidak terasa dan terbayar dengan pengalaman berharga yang diperoleh serta kebersamaan yang terjalin sepanjang perjalanan, waktu istirahat pun dimanfaatkan sebaik mungkin untuk saling bertukar pengalaman dan berbagi cerita sambil menikmati makanan sekedarnya, terimakasih untuk TCC yang dengan senang hati berbagi makanan ransum yang sebenarnya menjadi bekal mereka dan ini merupakan salah satu bentuk kebersamaan.  
 Tempat istirahat yang ada pun seolah berubah menjadi tempat piknik atau wisata yang menyenangkan, seperti terlihat dalam foto dimana salah satu lokasinya sebenarnya adalah sebuah sungai hujan yang sedang kering karena musim kemarau namun menjelma menjadi tempat istirahat yang teduh dan nyaman terlindung dari teriknya matahari Sudan.   Tempat bermalam kami pun lumayan baik dan layak karena didukung sepenuhnya oleh pemerintah daerah setempat dengan memanfaatkan fasilitas pribadi maupun publik yang ada seperti rumah kosong milik kepala desa setempat saat bermalam di Umm Barambita dan di halaman rumah salah satu mantan Perwira SAF yang cukup luas saat bermalam di Delami.    Patroli berjalan dengan lancar sampai dengan hari terakhir pada tanggal 18 Februari 2010, dan kami tiba kembali di Dilling TS sekitar pukul 4 sore waktu setempat. 

Selasa, Agustus 16, 2011

BC-TNI SAC at PMPP TNI


British Council (BC) had given a kind of collaboration between English language laboratory and English books library called Self Access Center (SAC) to Indonesian National Defence Force (TNI) through Peacekeeping Center (PMPP), it's completed by 21 PCs with interactive software and programs for English language proficiency and improvement, and all PCs connected into local network for teaching and learning activity interactively, but the other important part is the library itself that has various good english learning books, peacekeeping english and military books for support the users. Why SAC ? because it has philosophy that the user could have access to all facility in the SAC to improve their english proficiency, including use the PC or and borrows the books freely without any pressure and doubt, and its also free for anyone who will to enter and use it, not only military personnel but also civilian. So, it hope that SAC can be the center of english proficiency in TNI generally and PMPP particularly for prepare personnel who will carry out peacekeeping mission or related activity.
The handover of SAC was held on Friday the 8th July 2011 at PMPP TNI meeting room between (from) British Defence Attache Colonel Philip James Thorpe from Embassy of United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland in Jakarta, and (to) Deputy Assistant Operation to Commander in Chief of INDF First Admiral TNI Agus Purwoto from Indonesian National Defence Force HQ (Mabes TNI). Now SAC is operational under supervision and control of Training Directorate and can be used by anyone, it placed on 2nd floor of PMPP TNI HQ on the other side of administrative and internal affairs office (Taud).

Rabu, Agustus 10, 2011

Host Instructor di GPOI PKOIC Juli 2011




Bulan lalu, telah diselenggarakan kursus GPOI United Nations Peacekeeping Operations Instructor's Course (UNPKOIC) dan United Nations Civil Military Coordination & Cooperation (UNCIMIC) bertempat di PMPP TNI Cilangkap mulai tanggal 18 s/d 29 Juli 2011. Dalam kegiatan tersebut saya bergabung dengan kursus UNPKOIC bukan sebagai peserta namun sebagai Host Instructor berdua bersama Kasubdit saya letkol Tedja (ko bisa... ???), yaitu staf instruktur lokal yang mendampingi instruktur2 asing dari GPOI. Yaa.. ini kan hanya menjalankann perintah yang sudah diberikan (melalui Dirlat), jadi mengapa tidak.. hitung2 belajar jadi instruktur berbahasa inggris sambil mengasah kemampuan berbicara dalam bahasa inggris. Mungkin kalau memberikan materi dalam bahasa indonesia sih tidak masalah walaupun dadakan dan hanya belajar dari slide, namun ini harus pakai bahasa inggris.. wah jadi mikir seribu kali sebelum tampil... apalagi di jadwal kemaren saya kebagian mengisi materi pertama setelah pembukaan dan masih kelas gabungan/besar dimana UNPKOIC dan UNCIMIC mendapatkan materi yang sama pada waktu bersamaan, yaitu Operational Environtment sebagai materi dasar atau langkah awal sebelum memasuki materi2 lainnya, dan saya baru tahu kalau materi itu penting setelah diberitahu pimpinan tim instruktur GPOI Ms. Sharon pada saat farewell dinner, dan beliau memberikan apresiasi yang baik karena 'keberanian saya dalam menyampaikan materi tersebut karena pada walnya dia kuatir saya tidak sanggup mengingat penampilan saya adalah yang pertama kali dan pentingnya materi tersebut bagi kelanjutan materi2 lainnya... Kalau soal penampilan dan kemampuan saya menyampaikan.. wah jangan dibilang deh... HANCUR!!!.. hahaha... modal nekat aja, padahal saya sudah belajar lewat catatan pada slide sehari semalem loh.. tapi apa hendak dikata, pada saat tampil semuanya "hilang" begitu saja, untung saya masih membawa print out slide notes tersebut.. jadi ya itulah yang saya baca (benar loh, saya baca itu tulisan sebisa dan sebanyak mungkin) padahal saya berbicara tanpa podium, jadi ya sambil berdiri menenteng itu tulisan di tangan.. kaya baca puisi aja.. hehehe... gak tahu deh bagaimana pendapat para peserta yang mendengarkan saya mengoceh gak karuan.. (gimana mau ngasih pendapat, lah mereka sebagian besar pada tidur semua mendengarkan suara saya :D).. sebenarnya mungkin penampilan saya bisa lebih baik sedikit bila saja sebelum saya mengajar saya tidak ikut sibukmengurusi upacara pembukaannya juga.. ya karena saya ditunjuk juga menjadi Perwira Upacara jadi sibuk sana-sini, untung saja banyak dibantu Kapten Bambang (AL) yang akhirnya menggantikan saya saat jam J nya, apalagi Irupnya adalah Asops Panglima TNI... jangan sampe deh ada teguran dari beliau.. jadi agak stress semua jadinya.. untung lah acara bisa berlangsung dengan lancar walaupun ada kekurangan disana-sini.. tapi ya imbasnya penampilan saya jadi kacau balau saat mengajar pertama... yah, wajar lah, baru pertama kali juga (walaupun setelahnya pada materi2 berikutnya gak ada perkembangan berarti :D... yang penting usaha lah). Dan saya kebagian mengajar 4 materi, seharusnya 5 namun materi logistik saya kurang merasa sreg menyampaikannya jadi saya serahkan kepada Mike untuk menyampaikannya, eh iya, di PKOIC ini saya membantu 2 (dua) instruktur GPOI yaitu Mike dari Kanada sebagai yg paling senior dan Andre pensiunan tentara dari Afrika Selatan (tapi dia White Man loh), dan mereka adalah instruktur2 yang handal dan berpengalaman sehingga saya banyak dibantu serta saya bisa memperoleh banyak pelajaran berharga dari mereka. Satu hal lagi yang membuat saya grogi adalah para peserta kursus itu sendiri, beberapa diantara mereka adalah senior dan banyak yang sudah berpengalaman dan memiliki kemampuan berbahasa inggris yang jauh lebih baik dari saya, termasuk juga beberapa teman seangkatan saya (1997) yang menjadi peserta... tapi ya sekali lagi, saya lah yang ditunjuk jadi ya siap saja melaksanakan tugas, modal nekat aja.. hehehe... Yang membuat saya sedikit berbesar hati adalah ternyata para instruktur asing dari GPOI tersebut memberikan apresiasi yang cukup baik atas penampilan pertama saya, mereka memberikan selamat dan menyalami saya setelah presentasi (mungkin mereka menyadari 'berat nya beban mental yang saya pikul saat itu.. hahaha), bahkan senior saya juga yang menjadi peserta turut memberikan selamat.. apa mungkin mereka cuma menghibur saya aja ya? karena tahu penampilan saya yang jelek...hehehe... toh tetap saya berterimakasih atas dukungan mereka tersebut, namanya juga pertama kali. Ini adalah pengalaman yang sangat berharga buat saya untuk kedepannya, sebagai langkah awal sehingga saya tahu kemampuan saya sampai dimana dan berusaha memperbaiki kedepannya bila ada kesempatan lagi, yang saya yakin adalah satu hal.. bahwa semua ini baik atau buruk pasti ada hikmahnya.. siapa yang tahu dengan langkah awal ini mungkin suatu saat nanti saya bisa melanglangbuana dengan menjadi instruktur seperti Mike dan Andre... (mimpi kaleee... :D)

Itulah pengalam singkat saya menjadi instruktur di GPOI UNPKOIC, untuk materi sih tidak jauh berbeda dengan kursus GPOI UNPSOIC yang pernah saya ikuti di Halim PK tahun 2009 sebelum berangkat Milobs itu (mungkin juga pengajarnya juga sama.. saya lupa ko?). Dan saya juga mendapat sertifikat sama seperti peserta kursus. Semoga bermanfaat suatu saat nanti dan ada hikmah yang saya peroleh dari pengalaman tersebut.. amiin...

Senin, Desember 07, 2009

Dilling Team Site Sector IV


Aku ditempatkan di Dilling Team Site, Sektor IV. Letaknya lumayan dekat dengan Khartoum karena masih bisa dijangkau dengan bus umum, sekitar 5-6 jam lah (katanya.. aku juga belum pernah nyoba). Dilling merupakan kota kecil yang cukup ramai dan mayoritas penduduknya muslim, hampir semua kebutuhan hidup tersedia di sini, jadi gak akan kesulitan untuk survive selama misi berlangsung.
Aku sudah hampir 3 minggu di Dilling sejak datang pertengahan november lalu, segala sesuatu yg berkaitan dengan pekerjaan harus cepat dikuasai karena semua yg sudah bertugas di sini juga memiliki kesibukan dan kita harus menyesuaikan dengan mereka dan situasi kerja di Team Site, untungnya mereka semua tidak segan-segan membantu bila kita yg baru ini mengalami kesulitan dalam pekerjaan ataupun tugas yg dilaksanakan.
Kegiatan sehari-hari secara umum adalah patroli, bikin laporan, dan melakukan tugas staf lainnya, seperti aku yg kebagian (lagi-lagi) jadi staf personalia, alias Assistan G-1. Jabatan yg susah-susah gampang, ya gak jauh beda lah sama jabatan di indonesia tugas-tugasnya, modal kemampuan komputer, senyum dan low profile kayanya cukup deh buat menyelesaikan pekerjaan ini, semoga...

Kamis, Oktober 29, 2009

2 Minggu di Khartoum, Sudan


Akhirnya aku sudah berada di negeri orang, tanpa sadar sudah 2 minggu aku berada di Khartoum Sudan guna menjalankan tugas sebagai Military Observer di UNMIS. Aku tiba di Khartoum tanggal 18 Oktober 2009 kemaren, dan sampe sekarang masih menjalankan Induction Training untuk persiapan memasuki daerah2 misi yang sesungguhnya di sektor2 yang ada di Sudan selatan.

Rombongan ku bertiga dengan Mayor Aab Wahab (AAL 43) dan Mayor Sigit Himawan (Akmil 96), sementara ini kami tinggal di Indohouse (kos2an nya para milobs dari Indonesia) sambil menunggu induction training selesai dan penempatan, tidak tahu apakah nanti dari ber-3 ini kami ada yang satu team-site atau tidak. Semoga semuanya tetap berjalan lancar dan aman sesuai harapan...

Senin, September 21, 2009

Persiapan Milobs Misi di Unmis (Sudan)

Ini adalah minggu2 terakhir persiapan berangkat menuju Sudan untuk melaksanakan misi sebagai Military Observer pada UNMIS, setelah menunggu kurang lebih satu setengah tahun sejak mengikuti seleksi awal tahun 2008 lalu. Semoga semuanya bisa berjalan lancar sesuai yang direncanakan, karena sebenarnya ini sudah terlambat kurang lebih satu bulan dan personel yang seharusnya aku gantikan sudah kembali ke tanah air pada 23 agustus lalu.